Antara Kesulitan dan Berkah, Di Situlah Kudapati Tantangan

Bulan-bulan yang berat harus kuhadapi menjelang fsnas ini. Tidak banyak yang tahu memang, karena di depan yang lain, kita seharusnya memang tidak menunjukkan kegelisahan kita. Agar orang lainjuga tidak ikut gelisah karenanya.  Berat karena kondisi yang ada saat ini dan yang ada di depan mata, seakan-akan belum menunjukkan cahaya yang terang.

Persiapanku seakan nihil menjelang momentum penting yang memantiku di awal Juli, di ujung Timur negeri ini, sebuah tempat bernama Ambon. Aku tak hendak membiocarakan dulu perihal Ambon dan kenapa pentingnya kesana. Aku hanya ingin menuliskan bahwa, sebuah pembelajaran berharga ternyata kudapat pada bulan-bulan yang berat itu.

Menghitung hari menjelang momentum penting, masih sekitar empat bulan memang,  Namun sudah mulai tampak guratan-guratan kesulitan yang akan dihadapi. Diawali dengan ujian tengah semester, hal yang biasa dilalui seorang mahasiswa. Namun rasanya lain, benar-benar harus total berjuang. Karena dengan ini aku bisa sedikit lega menghadapi ujian akhir semester.

Segalanya, mulai perkara-perkara teknis, kondisi finansial sampai beberapa masalah internal kampus dan keluarga serasa ingin turut campur pula dalam menambah kesulitan yang ada. Yang mungkin terasa ironis adalah, hatiku mulai hampa. Aneh. Ini momentum bukanlah pertaruhan dunia saja tapi juga akhirat. Lalu bagaimana bisa hati ini hampa???

Namun benarkah semua kesulita itu memang menggelayuti dalam setiap langkah emapt bulan menuju kemenangan? Aku mengingat kembali ayat terfavorit. Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan tau tapi menunggu. Dia menunggu usahaku, namun Ia terus memberi berkah atas keringat dan air mata yang tercurah karenanya. Aku yakin itu

Lantas aku mulai sadar, di pertengahan hari, menjelang satu bulan kemenangan, bahwa antara kesulitan dan berkah , itulah yang namanya tantangan. Tantangan ini, yang sesungguhnya membuat hidup terasa lebih berwarna. Warna-warni keberkahan.

Tantangan ini, sungguh, cara Allah mendidik kita. Insan pejuangkah kita, atau pecundang saja yang tersemat dalam jiwa kita. Tuhan tau tapi menunggu. Menunggu kita untuk tidak mengeluh dulu, dan tau kapan saatnya memberi pertolongan. Aku hanya ingin berkata, bahwa dilema waktu antar momentum, kesulitan-kesulitan fisik seperti materi, komunikasi, adalah jalan Allah membina kita. Sekarang tinggal kita yang memilih, mau terbina atau tidak kah kita. Dan Allah bersedia membina kita. Karena sekali lagi, hidup adalah pilihan.

Madiun,05.06.10

11.47

karena kita tak pernah tau..bagaimana Allah mendatangkan pertolongannya

^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s